Definisi & Cara Membuat AMP (Accelerated Mobile Pages Project)

0
16

Accelerated Mobile Pages Project (AMP) adalah teknologi publishing website yang digagas oleh Google sebagai bentuk kompetitor dari Facebook Instant Articles. Proyek ini dilaunching Google di akhir tahun 2015 yang digadang-gadang sebagai teknologi yang meningkatkan performa mobile web.

Proyek ini melibatkan puluhan publisher baru dan beberapa perusahaan teknologi seperti Twitter, Pinterest, Linkedln dan WordPress yang bergabung sebagai kolaborator untuk proyek AMP ini.

Halaman AMP sendiri pertama kali muncul setahun setelah diluncurkan ketika Google menampilkan versi AMP dari halaman web di hasil pencarian dalam bentuk mobile. Proyek ini terus berkembang dan mulai banyak dilirik oleh para pelaku di dunia maya. Di tahun 2017 sendiri, Google mengklaim bahwa ada sekitar 900.000 domain web yang mempublish halaman AMP dengan jumlah lebih dari dua juta postingan secara global.

AMP ini memiliki keunggulan dari sisi kecepatan pada perangkat. Setiap halaman AMP dapat dibuka pada berbagai jenis browser selama itu dijalankan pada perangkat mobile. Biasanya halaman AMP tersebut memiliki tanda petir di sebelah kiri judul yang ditampilkan sebagai hasil pencarian.

Kecepatan dari AMP bukan tanpa alasan. Dalam bentuk AMP, halaman pada website akan lebih mudah dibaca dan ditemukan oleh web crawler dibandingkan dalam bentuk standarnya. Dengan kelebihannya ini, banyak yang mengklaim bahwa dalam bentuk AMP, sebuah website akan lebih cepat diindeks oleh mesin pencarian. Dengan begitu, secara tidak langsung AMP akan membantu meningkatkan page view dan traffic pada website kita.

Masa Depan Ekosistem Digital

Di era yang serba cepat sekarang ini, kebutuhan informasi dengan akses yang cepat pun menjadi kebutuhan utama. User seolah tidak lagi mau menunggu laman web dengan loading yang lambat.

Dengan banyaknya pengguna internet yang menggunakan perangkat mobile, sebenarnya sudah dipastikan bahwa AMP adalah masa depan teknologi web publisher. Google sendiri mencatat bahwa dengan berbentuk halaman AMP, sebuah laman website hanya menggunakan data sepuluh kali lipat lebih sedikit daripada laman non-AMP.

Di era yang serba cepat sekarang ini, kebutuhan informasi dengan akses yang cepat pun menjadi kebutuhan utama. User seolah tidak lagi mau menunggu laman web dengan loading yang lambat. Walaupun informasi yang dibutuhkannya ada pada laman web itu. Dengan sepersekian detik user akan berganti pada pilihan yang lain. Tentu saja hal seperti ini akan menimbulkan lost traffic pada web yang lambat tersebut. Dan kita tentu tidak mau hal itu terjadi pada web yang kita kelola.

Data dari Google sendiri menyebutkan bahwa user sekarang ini memiliki batas toleransi sekitar tiga detik untuk menunggu suatu laman web terbuka dengan sempurna. Sementara proyek AMP sendiri diklaim dapat membuka laman web AMP kurang dari satu detik.

Dengan User Behavior seperti itu tentu saja akan mempengaruhi bagaimana cara Google untuk mengindeks suatu web. Google kemudian akan lebih merekomendasikan web dengan kecepatan loading yang tinggi kepada user. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada peringkat Google nantinya, dan untuk kamu yang melakukan monetizing pada web kamu, hal ini tentu saja akan berdampak sangat besar.

AMP Project: Penjara Digital yang dibangun oleh Google

“kita bergerak dari sebuah dunia di mana kita dapat meletakkan dan menampilkan apa saja pada website kita ke arah dunia yang melarang kita untuk melakukan hal itu, karena Google berkata seperti itu”.

Meskipun menawarkan berbagai fasilitas dan inovasi teknologi untuk masa depan web, namun proyek AMP ini tidak terlepas dari kritikan-kritikan. Dilansir dari wikipedia.org, disebutkan bahwa banyak perusahaan teknologi yang memandang bahwa AMP project tidak lebih dari upaya Google untuk memonopoli dan memperluas dominasinya pada dunia web. Karena melalui AMP, Google seolah mendikte bagaimana seharusnya website dibangun dan di-monetize. Seolah-olah Google menggiring para publisher untuk masuk ke dalam ekosistem yang mereka bangun.

Joshua Benton, direktur dari Nieman Journalism Lab di Harvard University bahkan mengatakan bahwa melalui AMP Project, kita bergerak dari sebuah dunia di mana kita dapat meletakkan dan menampilkan apa saja pada website kita ke arah dunia yang melarang kita untuk melakukan hal itu, karena Google berkata seperti itu.

Berbagai kritikan itu tentu saja bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah karena ketika kita menampilkan web kita dalam bentuk laman AMP, seorang user tidak akan begitu saja masuk ke dalam laman web kita, tetapi pada laman AMP yang berada di server Google.

Salah satu kekurangan lain dari AMP project adalah bagaimana project ini meminimalisir, mereduksi hingga menghilangkan banyak script penting dalam web kita, terutama untuk desain tampilan. Karena di dalam sistemnya, seolah menolak kehadiran script-script Javascript dan CSS yang rumit. Dengan begitu, kita tidak lagi bebas untuk mendesain web seperti bagaimana yang kita mau.

Selain itu pun, dalam hal monetizing web, website dengan laman AMP akan memiliki perhitungan adsense yang berbeda. Meskipun sudah difasilitasi oleh Google itu sendiri, namun iklan yang dapat tayang pada laman AMP jauh lebih sedikit dibanding pada laman web standar. Meskipun begitu, seperti kita tahu bahwa project ini masih terus berkembang, dan mungkin saja beberapa waktu ke depan, monetizing di laman AMP akan bernilai sama atau bahkan lebih tinggi daripada adsense pada web-web standar.

Perihal apakah AMP project merupakan penjara digital yang dibuat oleh Google, tentu saja bergantung pada pandangan masing-masing. Bisa saja demikian, dan bisa saja project tersebut menjadi lahan baru yang sangat menguntungkan.

Haruskah Berpaling pada AMP Project?

Berpaling pada AMP pun bukan berarti tidak memiliki keuntungan sama sekali. Seperti telah disebutkan sebelumnya, dengan AMP, web kita akan jauh lebih cepat ditampilkan, lebih cepat diindeks yang akhirnya berujung pada peningkatan page views yang tinggi.

Membuat website kita menjadi laman AMP sebenarnya bukanlah hal yang mutlak agar website kita dapat diindeks dengan cepat oleh Google. Atau untuk sekedar mendapatkan traffic dan page views yang tinggi. Semuanya akan bergantung pada kualitas konten yang konsisten dengan dukungan stategi SEO yang tepat. Untuk sekedar menyiasati persoalan loading lambat pada web sebenarnya bukan hanya AMP solusinya. Ada banyak opsi yang tersedia. Tetapi sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang membuat web kita lambat untuk ditampilkan.

 

Sebelumnya kita bisa mengecek kecepatan loading website kita di berbagai platform speed analytic, seperti GTMetrix atau Google Speed. Di situ kita bisa tahu apa saja yang membuat website kita menjadi lambat. Bisa karena konten imej yang terlalu besar, cache yang bertumpuk-tumpuk atau ada kesalahan pada script di web kita. Tetapi jika semuanya tidak ada masalah, kita bisa menggunakan theme yang responsif untuk memaksimalkan performa kecepatan web yang kita kelola.

Berpaling pada AMP bukan berarti tidak memiliki keuntungan sama sekali. Seperti telah disebutkan sebelumnya, dengan AMP, web kita akan jauh lebih cepat ditampilkan, lebih cepat diindeks yang akhirnya berujung pada peningkatan page views yang tinggi.

Cara Membuat laman AMP

Untuk membuat laman AMP yang diindeks dan di-crawl oleh Google, caranya sebenarnya cukup mudah.

Banyak sekali cara untuk mengubah laman web kita ke dalam bentuk AMP. Di beberapa platform, Twitter misalnya, ketika kita memposting tweet yang berisi link pada website kita dan kemudian membukanya, maka laman website kita sudah berupa laman AMP secara otomatis. Namun laman seperti ini tidak akan diindeks atau di-crawl oleh Google. Meskipun laman AMP itu juga menyumbang impression pada web kita (bisa dilihat di Google Analytic yang terhubung dengan web yang kita kelola).

membuat amp

Untuk membuat AMP yang diindeks dan di-crawl oleh Google, caranya sebenarnya cukup mudah. Jika kamu menggunakan WordPress sebagai CMS, maka kamu cukup menginstall-kan plugin AMP yang tersedia di gallery Plugin WordPress. Setelah itu ada banyak plugin penunjang untuk lebih mengoptimalkan plugin AMP yang sudah kamu install, misalnya Glue Yoast SEO for AMP. Dengan plugin ini, kamu secara langsung sudah merekatkan antara plugin AMP dengan plugin Yoast SEO, di mana nantinya kamu dapat mengatur desain tampilan dari laman AMP kamu.

Selain itu, dalam membuat AMP, kamu pun dapat memilih bagian mana saja yang ingin diubah menjadi laman AMP. Bisa keseluruhan isi web, laman postingan dan laman Page, atau bisa juga hanya laman postingan saja. Semuanya tergantung pada pilihan kamu.

Setelah mengetahui cara membuat AMP, sejarah, perkembangan, kekurangan dan kelebihannya, kamu sekarang tentunya bisa menentukan pilihan. Apakah akan menggunakan laman AMP untuk mengoptimalkan website kamu, atau dengan cara yang lain…

Foto diambil dari berbagai sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here